Tuesday, January 3, 2017

Dapatkah perempuan memiliki segalanya?



Karier yang gemilang, pencapaian karier yang membanggakan, sekaligus menjaddi istri yang baik, ibu yang berdedikasi kepada anak-anaknya, dan kehidupan sosial dan pribadi yang membuat iri: Can woman have it all?

 

 


Bagi saya mungkin pertanyaan “Can woman have it all?” adalah pertanyaaan yang keliru untuk di tanyakan. Karena pertanyaan tersebut mengangsumsi bahwa memiliki segalanya adalah lebih baik dari hanya memiliki sebagian.  Jika “segalanya” berarti memiliki rumah tangga dan kehidupan pribadi yang sempurna maka apabila perempuan hanya memiliki karier saja rasanya tidak lengkap. Sebuah kompromi , kondisi di bawah dari yang ideal.


Mungkin pertanyaan yang lebih tepat untuk ditanyakan adalah , “Can woman be happy with their choice, whatever it is?” BIsakah perempuan bahagia dengan pilihannya, apapun itu? Karena menurut saya tidak ada pilihan superior dari pilihan lainnya. Menjadi perempuan yang fokus di karier, working mom, atau full time mom, semuanya adalah pilihan yang sama mulianya. Karena setiap perempuan memiliki latar bekakang, tata nilai, preferensi yang berbeda-beda, dan mereka berhak menentukan pilihan hidup yang dianggap terbaik oleh diri sendiri, bukan orang lain.


Kebahagiaan, harusnya menjadi tolak ukur terakhir dari sebuah pilihan hidup, bukan status pernikahan atau status karier. Sebagai contoh: apakah seorang perempuan menikah yang menderita sebagai korban KDRT bernasib lebih baik dari seorang single yang menikmati kariernya? Dalam hal ini status “menikah” ternyata tidak berkorelasi dengan kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah sesuatu yang subyektif, yang hanya bisa didefinisikan dan dirasakah oleh pelaku hidup, dan bukan di paksakan orang lain.


Perempuan single memilih fokus berkarier, misalnya, masih sering di cemooh oleh orang-orang dengan melabelnya dengan perempuan “kesepian” atau “tidak laku”. Tidak peduli dengan pencapaian mereka di bidangnya , sepanjang ia tidak memiliki suami (atau minimal pasangan tetap), maka selalu ada “concern” di tatapan yang di terima nya.


Bagi saya, ini hal yang absurd, dan tidak sesuai dengan apa yang saya lihat. Jika tolak ukur terpenting adalah kebahagiaan subyektif, maka saya melihat banyak perempuan single yang bahagia dengan kehidupan mereka. Mereka menikmati  tantangan pekerjaan, menikmati interaksi dengan staff dan kolega dan klien mereka, menikmati hasil pekerjaan mereka, dan juga menikmati pendapatan serta financial freedom mereka  sendiri. Sebagian memang masih mendambakan pasangan hidup, tapi bukan berarti mereka menangis meraung-raung setiap hari karena satu aspek kehidupan ini saja.


Mereka yang single dan bekerja bisa bahagia karena bagi mereka relationship bukan segala-galanya. Hidup lebih besar dari sekadar urusan romansa dan menikah. Dan kerenanya kebahagiaan tidak bergantung pada satu aspek hidup semata. Ada banyak hal dalam hidup yang bisa memberi makna dan kebahagiaan itu sendiri.


Bagaimana dengan perempuan yang memilih menikah dan tetap bekerja? Sekali lagi pertanyaan yang tetap adalah apakah mereka bahagia dengan jalan hidup nya ini. Seringkali orang luar memiliki prejudice (prasangka) tertentu mengenai perempuan berkeluarga dan bekerja. Seolah-olah mereka pasti tidak bahagia, pasti menelantarka anak dan suami. Tapi apakah benar demikian asumsi ini? Bahwa working mom harus lebih terampil dalam men-juggle waktu, itu tentu bisa di mengerti. Tetapi hal itu tidak mungkin bisa di lakukan juga hal yang tidak benar. Saya melihat sendiri banyak kolega dan rekan kerja saya adalah seorang ibu dan seorang pekerja. Kemudian mereka menjadi ibu yang memerhatikan kebutuhan anak dan suami, tanpa harus harus mengurangi produktifitas mereka sebagai seorang professional. Generalisasi pada dasarnya sesuatu yang harus di hindarkan. Realitasnya, banyak perempuan yang mampu menjalankan peran ganda bahkan multiple role. Kita tidak boleh menuduh semua perempuan tidak dapat melakukan itu.


Asumsi lain yang sering di gunakan adalah anak-anak ibu bekerja pasti terlantar, atau memiliki perkembangan psikologis yang tidak optimal. Benarkah demikian? Sekali lagi, asumsi harus di buktikan dengan validasi data. 

Sebuah penelitian dari Harvard Business School yang di kutip oleh The New York Times menunjukkan bahwa anak-anak yang di besarkan oleh ibu bekerja justru memiliki banyak kelebihan. Studi yang di lakukan di 25 negara menunjukkan bahwa ibu bekerja yang membesarkan anak-anak perempuannya dapat menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, lebih mungkin mendapatkanpekerjaan manajerial, dan mendapatkan pedapatan yang lebih tinggi. Bagaimana dengan anak laki-laki yang memiliki ibu bekerja? Walaupun tidak ada efek terdapat pengaruh karier mereka, anak-laki-laki dari ibu bekerja lebih mau ikut urus anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah kelak.  Penelitian meta analysis (penelitian atas penelitian) dari 69 studi selama 50 tahun juga menemukan bahwa anak-anak yang memiliki ibu bekerja tidak memiliki masalah terhadap motivasi belajar, perilaku maupun kehidupan social. Bahkan anak-anak ini cederung lebih berprestasi di sekolah dan cenderung lebih tidak depresi atau khawatir berlebihan.  


Peneiitian-penelitian di atas menunjukan kita harus bisa mempertanyakan asumsi dan prasangka yang seringkali di tuduhkan kepada ibu bekerja. Asumsi bahwa ibu bekerja pasti mengorbankan anaknya hanyalah sebuah asumsi, dan bukan sebagai realita. Dan bagi sebagian perempuan bekerja, justru anak-anak mereka mendapatkan keuntungan dalam bentuk teladan (role model) mengenai keseimbangan dan pilihan perempuan sampai kesediaan berbagi pekerjaan rumah.


Seorang rekan kerja saya menceritakan pandangan nya mengenai hal ini secara lebih luas. Dia memiliki seorang istri yang mana pekerjaanya adalah seorang professional. Bagi nya sebagai seorang suami, ia lebih menyukai istri nya bekerja, apalagi bidangnya sama dengan dirinnya. Hal tersebut menjadi kelebihan bagi dirinya di karenakan ia dan istrinya dapat berdiskusi mengenai pekerjaan. Karena istri bekerja, dia bisa lebih empati dengan kesulitan pekerjaan dan dapat memberikan dukungan yang tepat sesuai situasi. Begitu pun ia sebaliknya, rekan kerja saya ini baginya ia senang melihat istrinya aktif bekerja, karena menurutnya ia bisa melihat istrinya yang cerdas dan bertalenta yang tidak menyiayiakan karunia dan potensinya itu. Dia menambahkan yang lebih penting baginya ia dapat melihat istrinya bahagia menegerjakan pekerjaan nya atau peran yang istrinya ambil. Sorotan mata saat bercerita pada saya menjelaskan bahwa ia tahu betul bahwa apabila istrinya tidak bekerja maka hal itu akan membuat istrinya susah hati, dan sebagai pasangannya, her happiness matters. Toh baginya kesibukan istri bekerja tidak pernah ia merasa kesibukannya megorbankan keberadaan kebutuhan nya sebagai laki-laki dan suami.  Jadi kesimpulan yang bisa saya tarik adalah selama tidak ada yang di rugikan, kenapa tidak?


Saya pun mendapatkan statement closing dari nya yang menyatakan bahwa apabila ketika istri bekerja dan mereka tidak merasa keberatan satu sama lain dan saling berbahagia maka ia pun mendapatkan peace of mind bahwa jika kelak mereka di karunia anak, ada dua income yang bisa menjamin kesehjahteraan anak-anak nya, Pun jika amit-amit ada musibah  menimpa dirinya, istrinnya dapat menjadi pilar keluarga dan tujuan nya membangun keluarga tetap terjalani .


Kembali ke pertanyaaan awal, ”Can woman have it all’?


Jika kita sepakat bahwa pertanyaan ini keliru, maka lebih tepatnya untuk mengajukan pertanyaan rasanya bisa menjadi “CAN be happy with their choice. Tidak ada pilihan yang buruk. Menjadi ibu rumah tangga atau full time mother pun juga hal yang baik dan mulia. Apapun peran nya semua harus di tanyakan kembali, apakah hal tersebut membuatnya bahagia dengan pilihan nya sendiri? Setiap pilihan sudah pasti mengandung risiko, tantangan dari kesulitannya sendiri-sendiri, namun sebagai manusia berpikir dan mendewasa tidak seharusnya men-judge  suatu pilihan sesorang dengan satu standar. Perempuan Indonesia memiliki passion, ambisi, dan kemampuan yang berbeda-beda. Bagaimana mereka menjalankan pilihan hidup mereka kembali ke diri mereka masing-masing. 


And if you happy with your choice, isn’t it all the matters?



 
 






-deeshanty-









Tuesday, December 13, 2016

Solo Journey? Why Not?



Melakukan perjalanan #solojourney bagi saya seperti menjalankan hobi. Pengalaman berjalan sendiri ke tempat destinasi yang belum pernah di exlplore sendiri membawa hal yang tidak bisa di dapatkan apabila dilakukan secara grup. Meskipun terkadang repot, namun hal itu bagi saya seperti sedang melakukan #self-challenge untuk dapat mengakselarasi diri dengan pengalaman yang terkadang tidak selalu enak namun seru.

Solo journey kali ini bukanlah hal pertama saya lakukan. Dari 2013 hingga saat ini masih terus saya lakukan. Banyak orang yang takut atau tidak ingin melakukan Solo journey karena tidak ingin repot saat minta foto, tidak ada teman ngobrol, tidak ada teman bertukar pikiran, tidak ada teman saat makan malam bersama, atau hanya biar bisa dianggap “biar tidak aneh” saat ingin on the show di social media. Padahal di kalangan traveller dunia saja, banyak diantara traveller negara-negara lain seringkali  melakukan perjalanan sendiri tanpa teman, yang kemudian saat di perajalanan bertemu dengan traveller lain yang sehobi atau seperjalanan, asiknya diantara itu semua banyak membawa keuntungan dan kenikmatan sendiri. Namun karena Solo journey masih dianggap dan dirasa aneh untuk sebagian orang Indonesia, maka hal tersebut lebih sering hanya tinggal niat saja. 

 

Ada perasaan menyesal saat ketika saya  tidak banyak melakukan record dengan tulisan di setiap solo journey dan backpacker yang saya lakukan. Kebanyakan saya terlalu menikmatinya, sehingga saya tidak terlalu memikirkan harga. Alasan sebenarnya dulu saya tidak tertarik ingin menulisya setiap perjalanan saya di blog, karena hal itu sudah menjamur dan bisa di cari dimana saja. Namun setelah tahun ini saya berpikir, kebanyakan dari tulisan mereka membantu perjalanan saya yang seringkali saya lakukan seorang diri. Blog yang mereka tulis sangat membantu untuk mencari informasi terkait tempat yang ingin saya kunjungi. Lalu jika ternyata itu bermanfaat untuk orang lain dengan melakukan hal kecil tersebut kenapa tidak saya lakukan saja? Toh di baca atau tidak oleh orang lain pun tak masalah buat saya, namun memori perjalanan yang terkadang tehapus dengan ingatan jangka pendek kita seringkali aus jika tidak di maintenance dengan merekam nya menjadi sebuah tulisan. Atas dasar itulah hal itu seringkali menggelitik naluri menulis saya yang sempat redup terang selama setahun ini.

Selama saya melakukan #Solojourney banyak hal menarik yang pada akhirmya menambah khasanah pengetahuan saya. Saya jadi lebih memahami mengenai perbedaan budaya lokal setempat, menambah teman, membuka perspektif baru, dan lebih open minded terhadap segala perubahan yang kadangkala terjadi secara mendadak dan tak sesuai rencana di awal. Pernah suatu kali di Singapore pada November 2015 lalu, ketika saya sedang melakukan perjalanan sendiri di sana, saya bertemu 2 orang nenek-nenek yang tinggal di Papua  berani untuk melakukan perjalanan sendiri mereka tanpa melalui  agent travel atau bersama keluarga mereka. Jika saya taksir usia mereka sekitar 60an, karena anak terkecilnya saja sudah berusia 34 tahun. Saya tidak abis pikir apa motivasi mereka, namun saya sangat mengagumi keberanian mereka berdua. Saya bertemu mereka di hostel yang sama. Ketika breakfast di lobby hostel, saya melihat mereka kebingungan membaca peta MRT disana. Mencoba membantu mereka, malah akhirnya kami melancong bersama.  

Mereka mengikuti itinerary yang saya buat, ketika saya bertanya apa yang mereka rencanakan, mereka hanya menjawab bahwa mereka hanya ingin saling menghabiskan waktu bersama. Ternyata saya tanya-tanya lebih dalam mereka adalah kakak-beradik. Hebatnya, anak-anak mereka percaya bahwa ibu mereka tidak akan nyasar. Mereka bilang, mereka belum pernah melakukan hal ini sekali dalam hidup mereka selain bersama keluarga masing-masing. Selama mereka masih hidup, paling tidak mereka ingin melakukan nya sekali. Singapore bukan hal baru bagi mereka berdua, namun pergi tanpa keluarga mereka atau di temani oleh keluarga adalah hal baru bagi mereka. Biasanya mereka hanya duduk manis dan anak-anak mereka yang mengurus semuanya. Namun berbeda kali in, saat itu mereka benar-benar mengaturnya perjalanan mereka sendiri. Menghapal jalan dan aktif membaca map MRT, dan berani bertanya meskipun English mereka pas-pas an. Mereka berkeyakinan bahwa pasti Tuhan akan menutunnya dengan orang baik, mereka percaya akan ketemu orang baik di Singapore yang akan membantu mereka. Walaupun mereka tidak tahu siapa itu. Dan ketika akhirnya bertemu dengan saya, mereka berkata doa mereka di kabulkan. 


Perjalanan kami saat di Singapore menuju  IKEA kemudian ke Marina Bay Sands dan Taman-taman sekitar Marina dan berakhir SG Botanical Garden. Aku harus mengikuti tempo jalan mereka yang lambat, karena kalau tidak mereka tertinggal di belakang. Salah satu diantara mereka bernama Oma Claire seringkali mengambil gambar d setiap apapun, adik dari Oma Thelma ini sangat senang sekali mengambil gambar apapun yang di laluinya. Oma Thelma sebagai kakak tertua lebih mandiri, namun sakit pinggangnya yang dideritanya apabila perjalanan jauh membuat kami harus berisitrahat setiap 2 jam sekali karena beliau sudah mengalami pengapuran. Berbeda dengan adiknya, Oma Claire walaupun mereka hanya terpaut 2 tahun, namun oma Claire lebih energik, yaah seperti nenek-nenek lincah.

Awalnya saya berfikir, mereka sedikit mengganggu perjalanan sendiri saya. Namun setelah saya mendalami, saya malah banyak belajar dari semangat mereka yang tak padam itu. Meskipun sudah berumur, keinginan mereka untuk berjelajah justru menjadi inspirasi saya hingga sekarang. Usia tidak pernah menghalangi seseorang untuk terus belajar, untuk terus bergerak maju, untuk terus menemukan sesuatu yang baru, meskipuan mereka memiliki ketebatasan secara fisik dan Bahasa. Kami banyak mengambil gambar. Namun sayangnya,bulan maret lalu saya kecopetan dan seluruh kenangan foto saya di memori HP pun ikutan hilang bersama mereka. Dan itu rasayaaaaaaa…….aaaarrrrggggh KZL!!😠😠😠

Begitulah, terkadang tidak harus sesuai jadwal. Dalam merencanakan itinerary membutuhkan sikap flexibelitas yang sangat dirpelukan. Lagi juga tidak semua rencana harus sesuai dengan kenyataan kan? Karena ada rencana-rencanaNya yang tak dapat dipungkiri sangat menentukan. Kalau perjalanan sesuai dengan yang ada di Itinerary kita, dimana letak seru nya? 


-deejourney-
                                                        Hanya foto ini yang tersisa di SG 😢