Saturday, December 19, 2015

3 KUALITAS LAKI-LAKI MAHAL DI MATA SEORANG WANITA


Judul diatas memang terkesan komersil dan umum bagi para pria yang ingin mengetahui kualitas seperti apa yang akan membuat banyak wanita mengagumi nya.  Saya seorang wanita yang tahu persis laki-laki seperti apa yang terlihat mahal di mata wanita. Berbagi rahasia obrolan wanita akan saya tulis di blog ini. Tujuan dari penulisan ini bukan untuk menggurui, tapi memberikan gambaran agar setiap hubungan antara pria dan wanita dapat terhubung dengan sangat apik. Lets scroll down and lets me breakdown!

Banyak wanita yang menilai bahwa laki-laki yang mahal itu yang bisa jadi imam, mapan, bertanggung jawab, baik dan setia. Mungkin tampan adalah bonus yang tidak bisa di elakan juga, meskipun jika ditanya kepribadian seorang pria-lah yang menjadi prioritas utama. Namun sayangnya, banyak diantara wanita yang kurang spesifik menggambarkan laki-laki berkualitas dan mahal seperti apa yang di inginkan oleh kaum wanita. Sebagian mungkin malu, sebagian mungkin tidak tahu apa yang dicari atau sebagian lain tidak tahu menggambarkanya. Akhirnya karena kurangnya analisa dan kepekaan tinggi, seringkali menerima yang asal baik, asal kaya, asal usaha, dan asal-asalan #lol
Berikut saya berikan 3 kualitas Pria Mahal di Mata Wanita

1.    Lembut dalam cintanya
2.    Setia dalam kehidupannya yang sibuk
3.    Menjadikan wanitanya harta termahalnya.

Baiklah, saya jelaskan satu persatu secara detail mengenai tiga kualitas yang harus di miliki oleh seorang pria berkualitas dan mahal. Di mulai dari lembut dalam cintanya. Lembut dalam cintanya artinya laki-laki ini sabar. Karena wanita itu seringkali bertingkah, kemauannya tidak jelas, salah tetapi menyalahkan laki-laki, tidak mau bicara tapi mengharuskan pria nya mengerti, right? dan laki laki yang bisa lembut itu artinya bersabar terhadap wanita yang mengesalkan baginya. Lalu apa alasan mengapa lembut dalam cintanya? Pria tersebut dapat mencintai dengan ketulusan, dan keikhlasan. Bukan karena sabar kemudian lembut karena ada mau nya. Laki-laki yang mahal itu ia mencintai dengan hatinya dan dalam proses mencintai itu ia bersabar terhadap prilaku wanitanya yang belum sesuai dengan inginnya. Disinilah tantangan para laki-laki untuk menunjukan diri layakah untuk di ikuti? Layakah menjadi seorang imam? Apabila jika menghadapi hal itu saja, banyak yang mundur perlahan. Bukan untuk bersabar  dalam mengarahkan wanitanya . Dalam setiap hubungan itu harus ada penyesuaian diri. Antara pria dan wanita. Biasanya, apabila wanitanya belum sesuai dengan harapan pria tersebut, pria merasa di awal hubungan seperti di uji oleh wanitanya. Seperti “membebani, menguji kemarahan dan kekesalan, menguji daya tahan dan daya juang, melukai, dan mengecewakan”. Maka wanita yang memilih pria mahal yang lembut dalam cintanya artinya adalah hasil penerimaan dari sifat-sifat wanitanya. Kemudian bersabar karena tahu wanita itu penting untuk kehidupan masa depanya. Pernah dalam situasi saya mendengar Ayah saya berdiskusi dengan kakak sepupu saya yang telah menikah, kemudian beliau mengatakan 
Wanita itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, kalau kita sebagai pria atau suami yang membuat kopi---memperlakukanya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya seharusnya tidak keluar. Rasanya tidak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu, Om memperlakukan tante kamu sebagaimana dia diperlakukan. Kemudian sepupu saya bertanya, “Dari mana Om tahu, sudah melakukan yang tepat? Ayah kemudian menimpalinya dengan mengatakan dari perlakuan tante ke om. Memang butuh belajar lama, butuh salah juga, tidak apa-apa. Yang penting kita sabar, tekun, penuh kesungguhan, seperti ketika kita membuat kopi. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa kita bisa cari caranya di internet. Tinggal google. Wanita atau istri kita tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari tahu caranya sendiri.

Selanjutnya yang kedua adalah, Setia dalam kehidupan yang sibuk. Setia yang di maksud disini adalah bukan yang tidak pernah kemana-mana, hanya ingin berdua saja dengan wanitanya secara terus menerus, kemudian membatasi diri dari pergaulan wanita lain. Hal itu adalah kesetiaan yang wajar, yang pada umumnya. Tapi yang di maksud dengan setia dalam kehidupan yang sibuk adalah laki-laki tersebut tetap beraktifitas dengan bertemu dengan banyak orang, yang diantaranya adalah wanita-wanita lain di kehidupan profesionalnya, tetapi ia tetap setia. Pria tersebut dimata wanita begitu sangat mahal, entah sedang berada dalam kota atau luar kota bahkan bertugas ke luar negeri, ia memilih untuk melihat wanitanya sebagai yang utama untuk di setiakan. Tidak memanjakan mata dan hasrat nya untuk di tukar dengan integritas kepribadianya terhadap loyalitas dan komitmen yang sudah terjalin. Meskipun di luar sana ia dapat atau memiliki kesempatan besar untuk berselingkuh.

Sibuk yang di maksud disini bukan sibuk tanpa hasil. Pria yang bisa setia dalam kesibukanya pasti kesibukanya bernilai. Kesibukanya yang menjadikanya lebih ahli, semakin di butuhkan, mahal, dan di bayar tinggi serta di hormati di lingkungan profesionalnya. Banyak orang yang tidak melihat bahwa ada korelasi antara hubungan dengan kesetiaan dengan pasanganya atau wanita nya dalam kehidupan yang sibuk itu yang kian menjadikan pria itu lebih sejahtera bahkan lebih kaya.  Menjadikan dirinya setia pada satu hal terlebih dahulu, yang memiliki keseriusan dan komitmen yang tinggi, menganggap hal tersebut sebagai bentuk keseimbangan awal dalam setiap langkah hidupnya. Contoh, apabila ada seorang pria yang bekerja sangat sibuk kemudian jauh dari keluarga termasuk istrinya, dan ia mencoba “bermain” dengan wanita lain di luar komitmen nya, maka itu akan menjadi rangkaian setan yang sulit untuk di akhiri. Pria tersebut akan ketagihan dengan selingan seperti itu, uang habis, tenaga habis, pikiran habis, dan cinta yang harus di berikan kepada istrinya dirumah sudah tak bersisa karena melihat istrinya tak lagi semenarik wanita itu. Istri merasa di acuhkan, pertikaian tiada henti, wanita lain tersebut kemudian hari datang meminta pertanggung jawaban, istri mengetahui, doa istri tak lagi jadi penawar kesuksesan sang suami yang kemudian berganti menjadi kebencian dan rasa sakit hati, berita domestik tersebut terdengar oleh rekan profesionalnya, promosi jabatan di batalkan, mutasi jadi pilihan terakhir, perceraian menjadi ujung tombak, wanita lain merongrong minta di nikahi, anak-anak di bawa oleh ibunya, tidak dapat bertemu dengan anak-anaknya, muka tak lagi tahu mau di letakan dimana, karir tersendat, kemudian berkata “Ini cobaan dari Tuhan”. See? Kan lucu tiba-tiba Tuhan di salahkan sebagai penyebab dari keputusan nya sendiri. Jika ingin di compare dengan keseimbangan antara hubungan dengan setia bersama wanitanya atau istrinya dalam kehidupan yang sibuk, coba lihat para kepala negara, kanselir, raja dan perdana menteri. Tidak kah kesetiaan dalam kehidupan yang sibuk menjadikanya sangat bernilai dan kharismatik?

Akan selalu ada wanita yang lebih cantik, lebih cerdas, lebih menarik dari  wanita yang Anda sudah miliki. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, mau sampai kapan memanjakan ego dan hasrat manusia yang memang  tidak pernah cukup dan merasa puas?

Tiba pada penjelasan terakhir mengenai memperlakukan wanita sebagai harta termahalnya. Coba bayangkan seorang pria yang sibuk telah bertarung, berperang, berjuang kemudian bersaing namun wanitanya tetap di jaga  hati-hati seperti barang termahal yang dimilikinya, takut baret, takut lecet, takut tidak di sinari dengan baik, takut lembab dan kotor. Jadi jika laki-laki ini menjaga wanitanya tetap cantik, apapun yang di lakukanya untuk wanitanya atau istrinya, meskipun di luar sana mendapat pujian akan dirinya, pria tersebut merasa yang menghebatkanya adalah wanitanya. Laki-laki seperti ini menjadikan wanitanya lebih penting dari dirinya, karena dia sadar bahwa wanitanya lah yang akan menghebatkan kehidupan nya. Coba bayangkan laki-laki yang setia dalam kehidupan yang sibuk kemudian mencapai keberhasilan dan kesuksesan dan berkata “Oh itu karena istriku, karena wanitaku yang selalu ada di sampingku dalam setiap kondisi apapun yang kalian tak melihatnya”. Nah biasanya wanita yang melihat seperti itu bukan dari wanita yang di nikahinya, tapi dari wanita lain yang berucap “Aduh, seandainya aku memiliki laki-laki seperti itu” 

Itulah mengapa banyak wanita muda yang mengaggumi pria beristri yang SETIA dengan istrinya. Semakin pria itu menyetiakan diri dalam hubungannya dan sukses dalam pekerjaannya, semakin bernilai kualitas diri nya di mata banyak wanita. Oleh karena itu, wanita yang telah memiliki laki-laki yang memuliakanya harus dirawat, dan laki-laki berkualitas dan mahal seperti itu akan merasa sakit hati sekali apabila di perlakukan tidak santun, tidak cinta, tidak lembut dan tidak setia, maka Tuhan akan mengambil untuk di hadiahkan kepada wanita yang lebih baik.

So, kesimpulanya selalu ada dua orang yang bersama-sama dalam menjalani sebuah hubungan yang besinergi.

It always takes two people to be tango dance, right?

Sudahkan Anda menyiapkan diri menjadi pria berkualitas dan mahal seperti itu?

Friday, December 18, 2015

Notes About Separation...


Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. 

Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.

Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.

Oktober 2012 adalah momen penyadaran saya dengan mantan pasangan saya, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran hingga semua berakhir di Febuari 2013. Alasan perselingkuhan adalah alasan klasik. Pada saat tersebut saya tidak bisa menerima segala apapun, walalupun kesadaran untuk berpisah sudah memuncak, tapi ego saya berkata lain, bukan cara seperti ini yang saya inginkan pada saat itu. Kehidupan selama 8 tahun bersama, kemudian mengenal di akhiri dengan permisi yang terpaksa di akhiri. Saya pun memahami bahwa Tuhan memiliki caranya sendiri bagaimana kami harus berakhir. Dan kami hanya harus menerima nya saja. Perselingkuhan ataupun alasan lain hanya sebagai penyimpulan akhir bahwa kami harus berpisah, agar memudahkan kami untuk bergerak di jalur masing-masing. Meskipun pada dasarnya saya mengerti, masa kami sudah habis. Sudah waktunya berpamit.

Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya saja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan mantan saya, bersama, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, dinamika kami sebagai pasangan lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan yang kami inginkan dulu.

Lantas, orang-orang pun berargumen: semua pasangan menjadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada pasangan yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap bersama di status yang sama. Ketika sepasang pasangan menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika hubungan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang tersebut. Evolusi saya dan mantan saya ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang kebersamaan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.

Kita sebagai individu harus bisa merasa bahagia terlebih dahulu sebelum bisa membahagiakan orang lain. Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.


Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.

Misal jika kita menilik permasalahan perpisahan yang lebih serius, yaitu perceraian. Dimana perceraian terjadi di atas hadirnya seorang anak. Persepsi seseorang mengenai perceraian ayah bundanya sebagai egoisme orang tua yang tidak dapat mempertimbangkan kehidupan anaknya.  Mempertahankan pernikahan bukan karena anak, dan kalaupun bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena anak. Karena kalau cuma karena anak, dengan demikian seseorang menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya anak, bahkan pasangan berpisah tersebut menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya nantinya sebagai orangtua adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan anak saya nanti. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Beruntungnya saya memahami ini karena kebersamaan saya dengan sahabat yang jauh lebih tua dan yang saya hormati untuk melewati masa-masa sulit hidupnya dan membagi pengalaman dan perasaannya pada saya. Saya mengerti, bahwa seseorang yang menikah itu adalah karena dua individu yang berbeda, yang ingin membangun suatu wadah kebersamaan yang membahagiakan, saling mengusahakan satu sama lain. Yang mana bisa jadi wadah pernikahan bisa jadi rumah untuk mereka atau neraka untuk anggota keluarganya. Ini bukanlah frasa peryataan bahwa saya pasti akan bercerai jika saya berkeluarga nanti, namun lebih memahami sedasar mungkin bahwa setiap individu yang hidup nantinya akan berpisah dengan cara dan akhir yang kita tidak tahu tapi harus siap dengan segala apapun.

Membahagiakan orang terkasih, keluarga, masyarakat, juga menjadi keinginan setiap orang termasuk saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.

Seseorang lantas bertanya pada saya, ketika saya menyuarakan pandangan saya mengenai perpisahan seperti ini: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih sayang Allah SWT seharusnya mengingatkan orang yang berpisah untuk terus bersatu (terutama dalam pernikahan), sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Allah SWT berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan kuasa Allah SWT. Ia tak mengenal konsep “kecuali”. Allah SWT ingin kita belajar, sebagai hambaNya di dunia ini, Dia ingin mengajarkan bahwa apa yang ada di dunia ini, pemberiaNya adalah sebuah ujian. Hanya sebuah titipan yang mana selalu ada tanggal expired nya, dimana Yang Maha Pemberi berhak memintanya kapan saja dan dalam kondisi terima atau tidak terima. Bahwa makhluk yang hidup akan selalu di uji, kemudian mengaku bahwa Dia lah Yang Maha Kuasa, mengaku sebagai hamba, dan berserah terhadap apapun yang terjadi.

Selama beberapa hari terakhir pada saat itu, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Saya berterima kasih untuk semua. Saya  pun tak meminta banyak, hanya satu hal: menghargai keputusan. Kami selamatkan di sini adalah keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat saya, itu lebih penting daripada hubungan utuh tapi dalamnya rapuh. Itu mengapa setiap perpisahan yang terjadi setelah perpisahan tersebut saya tidak merasa kehilangan apapun, tidak lagi banyak mengalami trauma, tidak takut untuk melangkah, menyerap bnayak pelajaran dan ilmu dari setiap kejadian tersebut, banyak belajar lebih “legowo”, menerima, dan percaya ini sudah kehendak dan garisNya, bahwa tidak ada sesuatu yang luput dariNya. Bahkan ketika tulisan ini dibuat saya yakin, Dia melihatnya, dan mengizinkan saya menuliskan hal ini. Hidup terasa lebih ringan ketika semua hal di serahkan padaNya, dan membiarkan Allah SWT yang mengaturnya. Termasuk di dalamnya adalah jodoh, yang masih misteri bagi saya.

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan di setiap perpisahan yang terjadi dan menghampiri saya? Sama sekali tidak.. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.

Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab seseorang itu berpisah? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.

Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.

Salam,

~ Dee ~


Wednesday, November 4, 2015

TAKE A BREAKS

Hebat memang punya banyak kegiatan itu, memulai proyek-proyek baru dan selalu punya kesibukan yang selalu dikerjakan. Kita merasa berarti, sibuk, dan bertanggung jawab atas sesuatu.

 

Bahkan kita sering menilai diri sendiri seberapa sibuknya diri kita. Begitu juga dengan orang lain. Bila kita melihat orang lain tidak melakukan apapun, kita seringkali berasumsi bahwa orang-orang itu sedang tidak menjalani hidup yang memuaskan dan menyenangkan. Mereka tidak menjadikan diri mereka berguna dan memberikan sumbangsih kepada masyarakt dan dunia ini.

Karena itu, berdiam diri, bahkan dalam situasi yang mengizinkan kita untuk tidak bekerja terlalu keras atau terlalu lama adalah situasi yan tak tertangguhkan dan tidak kita inginkan. Kita merasa lebih baik bekerja berjam-jam, selalu mengerjakan sesuatu, dan menggarap lebih banyak lagi proyek-proyek hingga kita tak lagi punya waktu dan tenaga untuk mengerjakanya, bahkan kewajiban atau prioritas lain yang kian luput dari kebiasaan kita sebelumnya. 

Dalam hal demikian itu sungguh banyak nilai kebajikannya. Mempunyai pekerjaan dan mengembangkan karier memberikan kita tujuan dan makna hidup serta menyediakan jalan bagi kita untuk memenuhi nafkah. Kita berbangga hati karena bergabung dengan suatu perusahaan atau suatu institusi dan atau menjalankan bisnis atau membuka usaha jasa . Kita mengisi hari-hari kita dengan berbagai kesibukan. Agenda harian kita penuh dengan rapat, tenggat, dan berbagai target pencapaian. Pikiran kita penuh dengan ide, rencana, dan strategi. Juga sarang frustrasi, penyesalan, dan kekesalan.
 
Sejak pagi hingga malam kita terus-terus sibuk. Bahkan dirumah pun pikiran kita masih sibuk dengan sisa-sisa masalah di kantor. Sementara akhir pekan kita gunakan untuk mengejar ketinggalan  berbagai proyek yang belum selesai atau untuk mereka proyek-proyek baru. Dan kita tidak berhenti sampai kita merasa kelelahan dan dipaksa untuk istirahat, mau atau tidak mau. Karena tubuh sudah amat lelah dan pikiran tak lagi berfungsi.
 
Suatu ketika, saya pernah membaca buku biografi Ajahn Bram, seorang biksu dari United Kingdom, mengatakan bahwa musuh terbesar orang-orang yang sibuk bekerja adalah stress. Yang di maksudkan dengan stres bukanlah dari pekerjaan itu sendiri, melainkan stres dari proses bekerja yang terus menerus tanpa membiarkan diri beristirahat sesekali.
 
Memang banyak pegawai yang berprestasi tinggi merasa perlu terlihat bekerja begitu keras dan lembur. Itu membuat mereka terlihat tampak profesional dan penting. Mereka bangga bila tidak menyempatkan istirahat, serta menganggap orang-orang yang pulang lebih awal dan menikmati liburan sebagai orang-orang yang tidak memiliki ambisi dan komitmen terhadap pekerjaan mereka.
 

Namun menurut Ajahn Bram, mereka yang tahu cara berdamai dengan diri sendiri sesungguhnya bisa dapat bekerja lebih baik dengan hasil yang lebih baik. Mereka juga lebih lama bertahan dengan pekerjaan mereka karena mereka tidak akan kalah dengan penyakit dan masalah-masalah kesehatan yang berkaitan dengan stres  dan ketidakmampuan menyeimbangkan kehidupan. Mereka yang gila kerja terlihat mungkin tak terkalahkan sekarang, tetapi ketika mencapai usia empat puluh, mereka akan membayar adiksi mereka dengan kesehatan yang  buruk dan tubuh yang aus akibat terlalu lama disalagunakan.

Kita mungkin merasa kuat dan bisa menanggungkan stres sebanyak apapun . Namun tak lama beban itu semakin berat dan semakin  sulit di pikul. Seperti ketika mengangkat sebuah cangkir. Cangkir itu ringan dan mudah di pegang. Tapi jika kita menahan cangkir itu di udara selama beberapa menit, maka tangan akan mulai terasa pegal. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menaruh cangkir tersebut sejenak dan rehat. Dengan begitu kita dapat membiarkan tangan kita relaks sejenak dan menghimpun kita tenaga kta. Bila sudah siap cangkir itu akan terasa ringan dan mudah diangkat.
 
Pada waktu kita rehat dari apapun yang sedang kita lakukan atau khawatirkan, itu sama dengan meletakan cangkir sejenak. Alih-alih menambah beban dan stres, kita memberikan kesempatan pada pikiran dan tubuh kita untuk merasa relaks dan melepaskan diri kita dari tuntutan beban dan stres.
Jadi ketika kembali menekuni pekerjaan kita, kita dapat menanggungkannya lagi dengan mudah dan dengan pikiran yang jernih. Dengan demikian bukan hanya kualitas pekerjaan kita yang meningkat, kita pun akan tetap jauh lebih sehat sampai masa-masa mendatang 



                                            Photo by Personal Collection

Friday, April 24, 2015

Never manipulate your frriends. Time will tell whether you deserve the friendship or not.

*Melihat kiri kanan dan mengamati siapa saja yang sudah hadir. ‘Sofa sepertinya tempat ternyaman buat ngerumpi, I’ll take that!’. Duduk di sofa sambil menyeruput secangkir greentea latte sambil mendengarkan lagu favorite saya di headset. Sebagian orang mungkin aneh melihat saya sendirian seolah tak punya teman. Tapi ini lah "me time" saya. Tak perlu banyak basa basi untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Sebuah senyum manis diberikan agar diberi pemakluman. Terima kasih atas ketulusannya menerima saya apa adanya.

 

“So, let’s start this discussion!”
My dear friends,
Pernahkah anda sebentar saja mengingatkan pada diri sendiri bahwa kita hanya bisa menikmati hidup ini sekali saja? Pasti pernah!
Pernah jugakah anda sekali saja memikirkan bahwa meraih sebuah kepercayaan adalah hal yang sangat sulit? Pasti pernah!

Cuma sering lupa!
Ya, itu masalahnya. Sering lupa. So, I’m here just to ask you to spare just 5 minutes to remember about our friendship. Jika nanti ada yang tersinggung, saya mengerti. Anda boleh marah, dan saya akan beritahu anda kenapa saya mengatakan itu.
Sebagai mahluk sosial yang setiap saat berinteraksi dengan sesama manusia, kita pasti tahu bahwa manusia itu punya rasa dan perasaan. Semua pasti setuju bahwa masa-masa pendekatan dengan beberapa teman terasa begitu indah di awal, tapi sebagian orang tidak tahu bagaimana cara merawat dan menghormati persahabatan itu.

Hidup yang cuma sekali ini, tidakkah akan begitu sia-sia jika tidak kita jalani dengan hati yang lapang tanpa harus berpura-pura? Bayangkan jika anda harus bersandiwara seumur hidup anda! *kalau dibayar sih nggak apa-apa kali ya? Toh cuma akting dan memang itu bagian dari mata pencaharian.

But wait a second. Mata pencaharian? Iya dunks. Itu para pemain film dan sinetron, kan harus berpura-pura selama mereka berakting menjadi orang lain ketika mereka bekerja.
Kalau pekerjaan kita memang seorang aktor atau aktris ya wajar saja berakting, dalam pekerjaan lho, dan itu hampir setiap saat mereka harus menjadi orang lain karena pekerjaannya mungkin hampir separuh hidupnya. Tapi kalau yang bukan aktor atau aktris selalu bersandiwara dan menjadi orang lain setiap saat dalam hidup kita termasuk kepada orang-orang terdekat kita, bagaimana ya rasanya?
Para psikolog sering menyebut orang-orang ini sebagai pribadi ganda. Mereka bisa berubah-ubah sikap seperti bunglon. Bicaranya selalu berbeda di sana-sini.
Mari kita sama-sama renungkan lagi. Enak nggak sih kalau kita seharian berbohong dan menipu banyak orang dengan kepura-puraan kita? Ketika malam datang dan kesendirian menghampiri, sebelum tidur, tidakkah banyak sekali beban yang tak sanggup terangkat sebelum mata tertutup sejenak?

Sebagian kecil mungkin terangkat. Sebagian besar tidak. Ketika pagi datang, sandiwara baru dilanjutkan. Bagi yang sudah mahir ‘menyamar’ dia hanya akan sedikit terpeleset ketika melanjutkan kebohongannya. Bagi yang belum mahir, kebohongannya akan membuat orang ‘ternganga’ ketika informasi yang mengalir dari mulutnya berbeda, tapi tak tega untuk menegur. Yah, memang masyarakat kita sangat santun, kata para pengamat di TV, masyarakat kita sangat ‘permissive’ artinya banyak memberi toleransi kepada perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan, jadi ya biasanya kalau ada yang berbohong, hanya menggumam dalam hati.

Itu sebabnya jika saya menemukan orang yang berbohong, kemudian orang tersebut saya tegur “ah, bohong loe”, orang tersebut akan lebih marah kepada saya. Padahal harusnya yang marah kan saya, karena saya yang dibohongi. Tapi biasanya orang yang sedang berbohong menjadi malu ketika tertangkap kebohongannya, dan bukannya dengan berani mengakui, malah menjadi marah.
Sekarang saya tanya kepada anda. Apakah anda mau berteman dengan orang seperti itu? Atau memang anda orang yang seperti itu?

Pertanyaan pertama akan dijawab : “Tentu saja tidak, kan saya minum combantrin!” *oops salah ya? Hihihi… Pasti nggak mau kan punya teman seperti itu?
Pertanyaan kedua juga akan dijawab : “Tentu saja tidak. Saya orang yang suka berterus terang dan apa adanya!”
Pertanyaan kedua ini mengandung dua arti.
1. Dia mengatakan yang sebenarnya.
2. Dia sedang menipu dirinya sendiri dan orang lain, dengan kata lain “HIDUP BOHONG!”
Sekali lagi saya ingin mengajak anda untuk merenungkan dan membongkar isi pikiran terdalam anda, “Tidak kah kita lelah jika harus bersandiwara sepanjang hidup kita hanya untuk membuat semua orang kagum dan senang berdekatan dengan kita tanpa kita sendiri peduli apakah kita nyaman atau tidak?”

Jawabannya tentu terpulang pada masing-masing pribadi.

Jangan pernah merasa bahwa teman adalah seseorang yang harus memberikan seluruh fasilitas kepada anda. Jika anda berteman, justru anda harus saling membantu dan mendukung, bukan menggerogoti orang yang anda sebut sebagai “teman” atau bahkan lebih parahnya lagi “sahabat’. Betapa memuakkan ketika seseorang berkata kepada anda bahwa ia adalah sahabat terbaik anda tapi anda tak pernah tahu apa sebenarnya maksud orang tersebut ingin berada di dekat anda. Buang jauh-jauh pikiran bahwa menipu diri sendiri itu adalah lebih baik karena tidak akan ada orang yang tahu. Itu salah! Teman atau sahabat adalah orang yang akan menerima kita apa adanya, dan siap menahan kita dari bawah ketika kita jatuh. Jika saja semua orang berpikir seperti itu, mungkin kamuflase dalam berteman tidak akan lagi begitu marak.




“For me, it takes strength to feel a friend’s pain. It takes courage to feel my own pain. Never manipulate your friends, time will tell whether you deserve the friendship or not.”




Hello There!!

Waaah sudah 2 tahun saya tidak kembali menulis. Rasanya seperti rindu yang tertanam tak tertumpahkan. Banyak cerita yang saya belum membagi. Dua tahun seperti naik jet coaster cepat sekali berlalu. Pemikiran dan perasaan saya berlalu dengan cepat. Mungkin nanti saya akan membaginya di lain kesempatan. Sekarang hanya ingin menyapa saja dulu, bahwa saya masih akan tetap menulis dalam blog ini. Di tunggu yaa! :)


Sunday, July 28, 2013

Aku Cuma Selingkuh, kok...



Bicara soal selingkuh memang selalu menjadi topik yang menarik. It’s a never ending topic! Tak hanya yang sudah menikah, yang masih dalam status pacaran pun merasakan sakit yang tak terkira ketika mengetahui pasangannya berselingkuh.


Biasanya pihak yang melakukan perselingkuhan akan selalu menjadi sorotan dengan predikat buruk di mata orang lain. Tak peduli alasan apa yang membuatnya berselingkuh, kesan negatif seperti otomatis langsung melekat pada si pelaku selingkuh. Bahkan pada beberapa golongan, orang suka juga mencari keuntungan di balik perbuatan negatif ini dengan dalih ‘daripada selingkuh, mendingan poligami’ – well, untuk yang terakhir ini, ngobrol sama tembok saja ya supaya suaranya hanya terdengar menggaung di telinga sendiri, soalnya ini sama saja dengan ucapan seorang tukang becak di salah satu daerah di Bogor yang terkena penertiban, tanpa mau melihat permasalahan dan menyadari kesalahannya beroperasi di daerah bebas becak, dia malah asyik-asyik ngedumel – “Tanah tanah Allah, kita mau usaha aja diusir-usir!” – *mau ketawa karena lucu, tapi sebal juga dengar dia meng-klaim tanah milik Allah, kalau begitu boleh juga dong isterinya ditiduri oleh orang lain, kan milik Allah?

Anyway, let’s get back to the topic, selingkuh. Kali ini kita bicara soal rasa saja deh, soalnya lingkup selingkuh lumayan luas, nanti ada yg tanya ‘ini termasuk selingkuh nggak ya?’ Saya anggap saja semua yang membaca sudah tahu mana yang termasuk selingkuh, mana yang bukan.

Kalau kita mencoba melihat sinonim dari kata selingkuh itu sendiri, berbagai macam kata negatif lainnya seperti serong, menipu, tidak jujur, dan lain-lain seolah-olah menjadi satu kumpulan perbuatan negatif yang melekat pada perbuatan selingkuh itu sendiri. Jika demikian buruknya, apakah selingkuh masih dapat ditolerir?
Jika seseorang masih bertahan menjalani hubungan dengan orang yang sudah berkali-kali berselingkuh terhadap dirinya, bayangkan berapa banyak ‘sampah’ yang sudah rela ditelannya?

Yang sering terjadi adalah, ketika pasangan tertangkap basah berselingkuh, kemudian meminta maaf, dan berjanji bahwa dia adalah milik kita seutuhnya, kebanyakan dari kita rela memberi kesempatan kedua, ketiga, bahkan dan seterusnya. Sadarkah kita bahwa jika itu kita lakukan berarti kita sendiri yang akhirnya sibuk mencari alasan pembenaran untuk perselingkuhan yang sudah dilakukan pasangan kita? Setelah itu hidup hanya akan dipenuhi oleh kecurigaan, rasa sakit hati, dan kebencian, meski akhirnya kembali menerima si peselingkuh itu. Apakah itu yang disebut ‘Cinta’? – Me? Not anymore!


Jika anda masih menyebut itu sebagai ‘cinta’, maka saya tak bisa lagi membayangkan yang dinamakan ‘benci’ itu seperti apa. Saya juga mungkin tak akan habis pikir, bagaimana cara anda menghargai dan mencintai diri anda sendiri.

Di dunia ini mungkin saja banyak orang yang membenci kita, menyimpan rasa iri, ataupun ingin menyakiti. Kita sering mendengar bahwa memaafkan kesalahan orang lain akan lebih baik daripada menyimpan dendam. Saya setuju sekali. Bisa saja kita memaafkan, tapi itu bukan berarti membuka pintu untuk ‘the new him/her’ seperti yang mudah dijanjikan ketika seseorang ketahuan berselingkuh dan berjanji tak akan mengulangi. Mungkin kita harus menanyakan kembali kepada hati kita masing-masing, untuk sebuah dedikasi terhadap rasa cinta yang tulus dan kepercayaan yang demikian besar kita berikan, kita rela dikhianati? Membuka mata lebar-lebar akan kenyataan tentang siapa sebenarnya orang yang kita cintai dan bertanya pada diri sendiri mungkin juga sedikit membantu, pantaskah saya menerima semua pengkhianatan ini?

Beberapa waktu lalu, setelah kegagalan hubungan saya yang juga salah satu penyebabnya adalah perselingkuhan yang dilakukan pasangan saya, saya berkenalan dengan seseorang yang ketika itu dalam masa penjajakan untuk mendekati saya. Hubungan antara dua orang yang pernah memiliki latar belakang kegagalan hubungan tentunya berbeda dengan pasangan yang belum pernah mengalaminya. Ketika dalam masa-masa pendekatan, dia memberitahu saya bahwa akibat dari kegagalan hubungan nya adalah karena dia selingkuh.
“Kesalahanku cuma satu. Aku cuma selingkuh kok, nggak lebih dari itu!,” katanya sungguh-sungguh.
Hampir saja tawa saya meledak ketika itu. Cara bicaranya yang menganggap remeh perselingkuhan seperti mengatakan “Saya cuma makan tahu satu, kok disuruh bayar dua sih?”
Tapi saat itu saya hanya tersenyum geli. Selain ingin menjaga sopan santun, hilang sudah semua keinginan saya untuk mendengar semua ceritanya lebih jauh. How could I walk again with a cheating heart?


Yang saya ingin coba sampaikan melalui cerita saya di atas adalah, bahwa pada kondisi seseorang mengalami kegagalan pada status hubungan nya karena alasan selingkuhpun masih bisa merasa tidak bersalah atau menganggap selingkuh itu bukan masalah besar! Padahal kalau kita kembali lagi melihat hal-hal negatif apa yang termasuk dalam kata selingkuh saja, setidaknya 5 keburukan sudah tergambar dalam satu kata selingkuh itu sendiri.
Sekarang mari kita coba sama-sama tanyakan pada hati kita. Ketika kita ingin menerima kembali seseorang yang sudah mengkhianati cinta kita, beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu untuk mempertimbangkan.
  1. Kenapa kita harus menerimanya kembali?
  2. Adakah ini benar-benar karena cinta? Tapi cinta itu hanya milik kita sendiri, bukan milik dia lagi.
  3. Apakah kita siap untuk disakiti lagi jika itu terulang?
  4. Apakah kita bisa menghapus semua rasa kecewa akibat perbuatannya?
Hello?? Time to wake up!
Kita, saya dan anda, mungkin punya niat baik ingin memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur salah. Tapi pada situasi ini, ada kesalahan yang sangat fatal, yaitu : mencintai dengan hati yang terluka!


Pasangan selingkuhnya mungkin saja lebih baik dari anda tapi mungkin saja tidak. Tapi ini semua bukan tentang anda! Apapun alasannya, ini tentang dia yang sudah melukai hati anda dengan perselingkuhannya. Pada kebanyakan orang ragu untuk mengambil keputusan berpisah dan masih berharap bahwa cinta pasangan masih tetap seperti ketika hubungan masih berjalan dengan tulus. Tetapi sebuah hubungan tentu saja membutuhkan komitmen. Jika seseorang mencintai anda, ia akan berkomitmen penuh hanya pada anda seorang. Haruskah kesempatan kedua diberikan? Saya pribadi akan mengatakan : ‘No one should be given a second chance, when the first one was a very long generous opportunity for love and happiness has been paid back by hate, hurt, misery and suffering.”


Ini bukan provokasi, apalagi membuat khawatir siapapun yang sedang gelisah dalam kebimbangannya karena pasangannya berselingkuh. Tetapi saya berharap setidaknya bisa memberikan sedikit masukan agar kita dapat mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Hidup dalam ikatan yang penuh rasa was-was dan curiga tak akan pernah membawa kebahagiaan. Cintai diri kita sendiri dulu, dan sempatkan bertanya dan menjawab dengan jujur pertanyaan ‘Saya hidup untuk apa?’

I wish every of you would know how to give less, forgive less, and love less to get more respect from your loved one!

Saturday, June 29, 2013

Sorry, Your Privileged Access to My Life is Expired!


Hidup memang banyak cerita. Salah satunya adalah cerita kebersamaan dengan beberapa orang yang pernah singgah dalam hidup kita. Pengalaman yang ditinggalkannya pun beragam, ada yang manis, ada yang pahit. Yang manis, tentu saja menimbulkan gejolak rindu tersendiri ketika mengingatnya. Yang pahit? Yuck! Bisa-bisa membuat iritasi hati atau mengorek lagi borok yang sudah kering. Borok? Jorok sekali ya istilahnya? Well, tak apa, mari kita sebut pengalaman pahit itu sebagai ‘borok’ sehingga untuk mengingatnya pun kita akan merasa jijik.

Ada yang bilang, pengalaman pahit tak selalu buruk. Ia memberi pelajaran penting dalam hidup kita. Betul. Pelajaran pentingnya saja yang kita ambil, ceritanya tidak usah. Buat apa mengingat-ingat sesuatu yang hanya akan membuat sakit hati kembali hadir?
Percayakah anda jika dalam hidup ini memang kita sudah ditakdirkan untuk bersama atau tidak bersama seseorang atau beberapa orang? Jika anda percaya, kira-kira apa yang harus anda lakukan?
Saya sendiri percaya itu. Pergaulan atau pertemanan bagi saya akan melalui seleksi alam. Yang benar-benar tulus akan bertahan, yang tidak akan terbuang.  Saya teringat sebuah quotes dari Dawson’s Creek yang berbunyi: “There are certain people who aren’t meant to fit in your life no matter how much you want them to.” Ini memudahkan saya untuk melanjutkan hidup dan melepaskan orang-orang yang memang tidak seharusnya berada dalam hidup saya.

Dalam pergaulan sehari-hari, saat kita kebetulan berhadapan dengan orang yang bermasalah dengan kita, kemarahan mewarnai hari-hari kita. Pikiran negatif tentang seseorang demikian menguras energi dan waktu kita. Ketika coba diurai masalahnya, ternyata bukan hal yang besar. Tapi gimana dong? Udah terlanjur emosi nih! Nah, kalau gitu coba deh kita sama-sama pikirkan bagaimana membuat hati bisa sedikit lega atau bahkan melepaskan semua beban itu sama sekali!


Dorothy Thompson, seorang jurnalis Amerika menulis: “Peace is not the absence of conflict but the presence of creative alternatives for responding to conflict — alternatives to passive or aggressive responses, alternatives to violence.”
Let’s see what we got here.

1. Analisa Masalah dan Uraikan dengan Obyektif
Ketika kita mencoba menganalisa suatu masalah secara obyektif, maka kita akan melihat bahwa di satu sisi kita benar, di sisi lain pihak yang bermasalah dengan kita mungkin juga ada benarnya. Meski sama-sama mengandung kebenaran, ada hal-hal yang tidak selalu harus dijabarkan dengan baik dan belum tentu ada momentum yang tepat untuk bisa menyamakan persepsi atau setidaknya butuh waktu yang tidak sebentar dan jika dibandingkan dengan masalahnya, sangat tidak sepadan.
2. Pertimbangkan Untung dan Ruginya
Jika kita mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya menurut kita sangat prinsip, tetapi menurut orang lain tidak, maka kita sama saja bicara dalam deru angin. Tak terdengar. Sia-sia. Saat itulah kita berpikir apakah terus bergaul dengan orang seperti itu lebih banyak mendatangkan keuntungan atau justru merugikan diri sendiri. 
3. Ambil Keputusan
Setelah mencoba menganalisa dan mengurai masalah, lalu menghitung untung dan ruginya,  harus ada keputusan yang diambil. Mencoba memperbaiki hubungan memang harus dilakukan. Tetapi ini harus datang dari dua pihak. Jika keputusan yang diambil adalah meneruskan hubungan, maka segala cara harus diupayakan.  Tetapi jika keputusan yang diambil adalah sebaliknya, maka putuskanlah itu dengan pasti.
4. Berkompromi dengan Hati dan Pikiran
Hati seringkali mudah tergoda oleh bujuk rayu, tetapi otak harus tetap bekerja dengan baik.
Jika keputusannya adalah tetap mencoba menjalin hubungan, maka hati dan pikiran harus berkompromi pada proses yang akan dilalui. Beberapa orang akan punya begitu banyak waktu untuk ‘berperang’ karena tak punya banyak aktifitas, tetapi bagi orang yang kehidupan professional dan sosialnya aktif, berperang untuk hal yang tak sepadan hanyalah buang-buang wakt


Jika sudah pada tahap tak ingin meneruskan hubungan, kompromikan pula itu dengan hati dan pikiran akan selalu menjaga itu. Memutuskan hubungan bukan berarti bermusuhan, seperti juga memaafkan bukan berarti melupakan. Ketika seseorang berkali-kali membuat kecewa, saatnya untuk berpikir memutus semua hubungan dan menganggapnya sama dengan orang-orang lainnya yang tak punya ‘privileged access’ baik dalam pikiran maupun dalam tindakan kita. Putuskan, buang semua pikiran yang mengganggu, dan ‘move on’.
“You can’t shake hands with a clenched fist.” – Indira Gandhi

Sekali lagi, apakah anda percaya takdir? Saya percaya. Takdir mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik untuk menemani saya menjalani hari-hari dalam hidup saya lebih berkualitas. Takdir juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang tidak baik, untuk mengasah mental, kemampuan, dan membawa saya ke arah perbaikan diri.


“Someone who is anybody and who does anything is certainly going to be criticised, vilified and misunderstood. The final proof of greatness lies in being able to endure contumely without resentment.” – Elbert Hubbard
 






Well, I have my way on my own. I chose to remember every good people in my life and throw away some bad people out of it! Cherio!





-Deeshanty-