Friday, April 24, 2015

Never manipulate your frriends. Time will tell whether you deserve the friendship or not.

*Melihat kiri kanan dan mengamati siapa saja yang sudah hadir. ‘Sofa sepertinya tempat ternyaman buat ngerumpi, I’ll take that!’. Duduk di sofa sambil menyeruput secangkir greentea latte sambil mendengarkan lagu favorite saya di headset. Sebagian orang mungkin aneh melihat saya sendirian seolah tak punya teman. Tapi ini lah "me time" saya. Tak perlu banyak basa basi untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Sebuah senyum manis diberikan agar diberi pemakluman. Terima kasih atas ketulusannya menerima saya apa adanya.

 

“So, let’s start this discussion!”
My dear friends,
Pernahkah anda sebentar saja mengingatkan pada diri sendiri bahwa kita hanya bisa menikmati hidup ini sekali saja? Pasti pernah!
Pernah jugakah anda sekali saja memikirkan bahwa meraih sebuah kepercayaan adalah hal yang sangat sulit? Pasti pernah!

Cuma sering lupa!
Ya, itu masalahnya. Sering lupa. So, I’m here just to ask you to spare just 5 minutes to remember about our friendship. Jika nanti ada yang tersinggung, saya mengerti. Anda boleh marah, dan saya akan beritahu anda kenapa saya mengatakan itu.
Sebagai mahluk sosial yang setiap saat berinteraksi dengan sesama manusia, kita pasti tahu bahwa manusia itu punya rasa dan perasaan. Semua pasti setuju bahwa masa-masa pendekatan dengan beberapa teman terasa begitu indah di awal, tapi sebagian orang tidak tahu bagaimana cara merawat dan menghormati persahabatan itu.

Hidup yang cuma sekali ini, tidakkah akan begitu sia-sia jika tidak kita jalani dengan hati yang lapang tanpa harus berpura-pura? Bayangkan jika anda harus bersandiwara seumur hidup anda! *kalau dibayar sih nggak apa-apa kali ya? Toh cuma akting dan memang itu bagian dari mata pencaharian.

But wait a second. Mata pencaharian? Iya dunks. Itu para pemain film dan sinetron, kan harus berpura-pura selama mereka berakting menjadi orang lain ketika mereka bekerja.
Kalau pekerjaan kita memang seorang aktor atau aktris ya wajar saja berakting, dalam pekerjaan lho, dan itu hampir setiap saat mereka harus menjadi orang lain karena pekerjaannya mungkin hampir separuh hidupnya. Tapi kalau yang bukan aktor atau aktris selalu bersandiwara dan menjadi orang lain setiap saat dalam hidup kita termasuk kepada orang-orang terdekat kita, bagaimana ya rasanya?
Para psikolog sering menyebut orang-orang ini sebagai pribadi ganda. Mereka bisa berubah-ubah sikap seperti bunglon. Bicaranya selalu berbeda di sana-sini.
Mari kita sama-sama renungkan lagi. Enak nggak sih kalau kita seharian berbohong dan menipu banyak orang dengan kepura-puraan kita? Ketika malam datang dan kesendirian menghampiri, sebelum tidur, tidakkah banyak sekali beban yang tak sanggup terangkat sebelum mata tertutup sejenak?

Sebagian kecil mungkin terangkat. Sebagian besar tidak. Ketika pagi datang, sandiwara baru dilanjutkan. Bagi yang sudah mahir ‘menyamar’ dia hanya akan sedikit terpeleset ketika melanjutkan kebohongannya. Bagi yang belum mahir, kebohongannya akan membuat orang ‘ternganga’ ketika informasi yang mengalir dari mulutnya berbeda, tapi tak tega untuk menegur. Yah, memang masyarakat kita sangat santun, kata para pengamat di TV, masyarakat kita sangat ‘permissive’ artinya banyak memberi toleransi kepada perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan, jadi ya biasanya kalau ada yang berbohong, hanya menggumam dalam hati.

Itu sebabnya jika saya menemukan orang yang berbohong, kemudian orang tersebut saya tegur “ah, bohong loe”, orang tersebut akan lebih marah kepada saya. Padahal harusnya yang marah kan saya, karena saya yang dibohongi. Tapi biasanya orang yang sedang berbohong menjadi malu ketika tertangkap kebohongannya, dan bukannya dengan berani mengakui, malah menjadi marah.
Sekarang saya tanya kepada anda. Apakah anda mau berteman dengan orang seperti itu? Atau memang anda orang yang seperti itu?

Pertanyaan pertama akan dijawab : “Tentu saja tidak, kan saya minum combantrin!” *oops salah ya? Hihihi… Pasti nggak mau kan punya teman seperti itu?
Pertanyaan kedua juga akan dijawab : “Tentu saja tidak. Saya orang yang suka berterus terang dan apa adanya!”
Pertanyaan kedua ini mengandung dua arti.
1. Dia mengatakan yang sebenarnya.
2. Dia sedang menipu dirinya sendiri dan orang lain, dengan kata lain “HIDUP BOHONG!”
Sekali lagi saya ingin mengajak anda untuk merenungkan dan membongkar isi pikiran terdalam anda, “Tidak kah kita lelah jika harus bersandiwara sepanjang hidup kita hanya untuk membuat semua orang kagum dan senang berdekatan dengan kita tanpa kita sendiri peduli apakah kita nyaman atau tidak?”

Jawabannya tentu terpulang pada masing-masing pribadi.

Jangan pernah merasa bahwa teman adalah seseorang yang harus memberikan seluruh fasilitas kepada anda. Jika anda berteman, justru anda harus saling membantu dan mendukung, bukan menggerogoti orang yang anda sebut sebagai “teman” atau bahkan lebih parahnya lagi “sahabat’. Betapa memuakkan ketika seseorang berkata kepada anda bahwa ia adalah sahabat terbaik anda tapi anda tak pernah tahu apa sebenarnya maksud orang tersebut ingin berada di dekat anda. Buang jauh-jauh pikiran bahwa menipu diri sendiri itu adalah lebih baik karena tidak akan ada orang yang tahu. Itu salah! Teman atau sahabat adalah orang yang akan menerima kita apa adanya, dan siap menahan kita dari bawah ketika kita jatuh. Jika saja semua orang berpikir seperti itu, mungkin kamuflase dalam berteman tidak akan lagi begitu marak.




“For me, it takes strength to feel a friend’s pain. It takes courage to feel my own pain. Never manipulate your friends, time will tell whether you deserve the friendship or not.”




Hello There!!

Waaah sudah 2 tahun saya tidak kembali menulis. Rasanya seperti rindu yang tertanam tak tertumpahkan. Banyak cerita yang saya belum membagi. Dua tahun seperti naik jet coaster cepat sekali berlalu. Pemikiran dan perasaan saya berlalu dengan cepat. Mungkin nanti saya akan membaginya di lain kesempatan. Sekarang hanya ingin menyapa saja dulu, bahwa saya masih akan tetap menulis dalam blog ini. Di tunggu yaa! :)


Sunday, July 28, 2013

Aku Cuma Selingkuh, kok...



Bicara soal selingkuh memang selalu menjadi topik yang menarik. It’s a never ending topic! Tak hanya yang sudah menikah, yang masih dalam status pacaran pun merasakan sakit yang tak terkira ketika mengetahui pasangannya berselingkuh.


Biasanya pihak yang melakukan perselingkuhan akan selalu menjadi sorotan dengan predikat buruk di mata orang lain. Tak peduli alasan apa yang membuatnya berselingkuh, kesan negatif seperti otomatis langsung melekat pada si pelaku selingkuh. Bahkan pada beberapa golongan, orang suka juga mencari keuntungan di balik perbuatan negatif ini dengan dalih ‘daripada selingkuh, mendingan poligami’ – well, untuk yang terakhir ini, ngobrol sama tembok saja ya supaya suaranya hanya terdengar menggaung di telinga sendiri, soalnya ini sama saja dengan ucapan seorang tukang becak di salah satu daerah di Bogor yang terkena penertiban, tanpa mau melihat permasalahan dan menyadari kesalahannya beroperasi di daerah bebas becak, dia malah asyik-asyik ngedumel – “Tanah tanah Allah, kita mau usaha aja diusir-usir!” – *mau ketawa karena lucu, tapi sebal juga dengar dia meng-klaim tanah milik Allah, kalau begitu boleh juga dong isterinya ditiduri oleh orang lain, kan milik Allah?

Anyway, let’s get back to the topic, selingkuh. Kali ini kita bicara soal rasa saja deh, soalnya lingkup selingkuh lumayan luas, nanti ada yg tanya ‘ini termasuk selingkuh nggak ya?’ Saya anggap saja semua yang membaca sudah tahu mana yang termasuk selingkuh, mana yang bukan.

Kalau kita mencoba melihat sinonim dari kata selingkuh itu sendiri, berbagai macam kata negatif lainnya seperti serong, menipu, tidak jujur, dan lain-lain seolah-olah menjadi satu kumpulan perbuatan negatif yang melekat pada perbuatan selingkuh itu sendiri. Jika demikian buruknya, apakah selingkuh masih dapat ditolerir?
Jika seseorang masih bertahan menjalani hubungan dengan orang yang sudah berkali-kali berselingkuh terhadap dirinya, bayangkan berapa banyak ‘sampah’ yang sudah rela ditelannya?

Yang sering terjadi adalah, ketika pasangan tertangkap basah berselingkuh, kemudian meminta maaf, dan berjanji bahwa dia adalah milik kita seutuhnya, kebanyakan dari kita rela memberi kesempatan kedua, ketiga, bahkan dan seterusnya. Sadarkah kita bahwa jika itu kita lakukan berarti kita sendiri yang akhirnya sibuk mencari alasan pembenaran untuk perselingkuhan yang sudah dilakukan pasangan kita? Setelah itu hidup hanya akan dipenuhi oleh kecurigaan, rasa sakit hati, dan kebencian, meski akhirnya kembali menerima si peselingkuh itu. Apakah itu yang disebut ‘Cinta’? – Me? Not anymore!


Jika anda masih menyebut itu sebagai ‘cinta’, maka saya tak bisa lagi membayangkan yang dinamakan ‘benci’ itu seperti apa. Saya juga mungkin tak akan habis pikir, bagaimana cara anda menghargai dan mencintai diri anda sendiri.

Di dunia ini mungkin saja banyak orang yang membenci kita, menyimpan rasa iri, ataupun ingin menyakiti. Kita sering mendengar bahwa memaafkan kesalahan orang lain akan lebih baik daripada menyimpan dendam. Saya setuju sekali. Bisa saja kita memaafkan, tapi itu bukan berarti membuka pintu untuk ‘the new him/her’ seperti yang mudah dijanjikan ketika seseorang ketahuan berselingkuh dan berjanji tak akan mengulangi. Mungkin kita harus menanyakan kembali kepada hati kita masing-masing, untuk sebuah dedikasi terhadap rasa cinta yang tulus dan kepercayaan yang demikian besar kita berikan, kita rela dikhianati? Membuka mata lebar-lebar akan kenyataan tentang siapa sebenarnya orang yang kita cintai dan bertanya pada diri sendiri mungkin juga sedikit membantu, pantaskah saya menerima semua pengkhianatan ini?

Beberapa waktu lalu, setelah kegagalan hubungan saya yang juga salah satu penyebabnya adalah perselingkuhan yang dilakukan pasangan saya, saya berkenalan dengan seseorang yang ketika itu dalam masa penjajakan untuk mendekati saya. Hubungan antara dua orang yang pernah memiliki latar belakang kegagalan hubungan tentunya berbeda dengan pasangan yang belum pernah mengalaminya. Ketika dalam masa-masa pendekatan, dia memberitahu saya bahwa akibat dari kegagalan hubungan nya adalah karena dia selingkuh.
“Kesalahanku cuma satu. Aku cuma selingkuh kok, nggak lebih dari itu!,” katanya sungguh-sungguh.
Hampir saja tawa saya meledak ketika itu. Cara bicaranya yang menganggap remeh perselingkuhan seperti mengatakan “Saya cuma makan tahu satu, kok disuruh bayar dua sih?”
Tapi saat itu saya hanya tersenyum geli. Selain ingin menjaga sopan santun, hilang sudah semua keinginan saya untuk mendengar semua ceritanya lebih jauh. How could I walk again with a cheating heart?


Yang saya ingin coba sampaikan melalui cerita saya di atas adalah, bahwa pada kondisi seseorang mengalami kegagalan pada status hubungan nya karena alasan selingkuhpun masih bisa merasa tidak bersalah atau menganggap selingkuh itu bukan masalah besar! Padahal kalau kita kembali lagi melihat hal-hal negatif apa yang termasuk dalam kata selingkuh saja, setidaknya 5 keburukan sudah tergambar dalam satu kata selingkuh itu sendiri.
Sekarang mari kita coba sama-sama tanyakan pada hati kita. Ketika kita ingin menerima kembali seseorang yang sudah mengkhianati cinta kita, beberapa pertanyaan ini mungkin bisa membantu untuk mempertimbangkan.
  1. Kenapa kita harus menerimanya kembali?
  2. Adakah ini benar-benar karena cinta? Tapi cinta itu hanya milik kita sendiri, bukan milik dia lagi.
  3. Apakah kita siap untuk disakiti lagi jika itu terulang?
  4. Apakah kita bisa menghapus semua rasa kecewa akibat perbuatannya?
Hello?? Time to wake up!
Kita, saya dan anda, mungkin punya niat baik ingin memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur salah. Tapi pada situasi ini, ada kesalahan yang sangat fatal, yaitu : mencintai dengan hati yang terluka!


Pasangan selingkuhnya mungkin saja lebih baik dari anda tapi mungkin saja tidak. Tapi ini semua bukan tentang anda! Apapun alasannya, ini tentang dia yang sudah melukai hati anda dengan perselingkuhannya. Pada kebanyakan orang ragu untuk mengambil keputusan berpisah dan masih berharap bahwa cinta pasangan masih tetap seperti ketika hubungan masih berjalan dengan tulus. Tetapi sebuah hubungan tentu saja membutuhkan komitmen. Jika seseorang mencintai anda, ia akan berkomitmen penuh hanya pada anda seorang. Haruskah kesempatan kedua diberikan? Saya pribadi akan mengatakan : ‘No one should be given a second chance, when the first one was a very long generous opportunity for love and happiness has been paid back by hate, hurt, misery and suffering.”


Ini bukan provokasi, apalagi membuat khawatir siapapun yang sedang gelisah dalam kebimbangannya karena pasangannya berselingkuh. Tetapi saya berharap setidaknya bisa memberikan sedikit masukan agar kita dapat mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Hidup dalam ikatan yang penuh rasa was-was dan curiga tak akan pernah membawa kebahagiaan. Cintai diri kita sendiri dulu, dan sempatkan bertanya dan menjawab dengan jujur pertanyaan ‘Saya hidup untuk apa?’

I wish every of you would know how to give less, forgive less, and love less to get more respect from your loved one!

Saturday, June 29, 2013

Sorry, Your Privileged Access to My Life is Expired!


Hidup memang banyak cerita. Salah satunya adalah cerita kebersamaan dengan beberapa orang yang pernah singgah dalam hidup kita. Pengalaman yang ditinggalkannya pun beragam, ada yang manis, ada yang pahit. Yang manis, tentu saja menimbulkan gejolak rindu tersendiri ketika mengingatnya. Yang pahit? Yuck! Bisa-bisa membuat iritasi hati atau mengorek lagi borok yang sudah kering. Borok? Jorok sekali ya istilahnya? Well, tak apa, mari kita sebut pengalaman pahit itu sebagai ‘borok’ sehingga untuk mengingatnya pun kita akan merasa jijik.

Ada yang bilang, pengalaman pahit tak selalu buruk. Ia memberi pelajaran penting dalam hidup kita. Betul. Pelajaran pentingnya saja yang kita ambil, ceritanya tidak usah. Buat apa mengingat-ingat sesuatu yang hanya akan membuat sakit hati kembali hadir?
Percayakah anda jika dalam hidup ini memang kita sudah ditakdirkan untuk bersama atau tidak bersama seseorang atau beberapa orang? Jika anda percaya, kira-kira apa yang harus anda lakukan?
Saya sendiri percaya itu. Pergaulan atau pertemanan bagi saya akan melalui seleksi alam. Yang benar-benar tulus akan bertahan, yang tidak akan terbuang.  Saya teringat sebuah quotes dari Dawson’s Creek yang berbunyi: “There are certain people who aren’t meant to fit in your life no matter how much you want them to.” Ini memudahkan saya untuk melanjutkan hidup dan melepaskan orang-orang yang memang tidak seharusnya berada dalam hidup saya.

Dalam pergaulan sehari-hari, saat kita kebetulan berhadapan dengan orang yang bermasalah dengan kita, kemarahan mewarnai hari-hari kita. Pikiran negatif tentang seseorang demikian menguras energi dan waktu kita. Ketika coba diurai masalahnya, ternyata bukan hal yang besar. Tapi gimana dong? Udah terlanjur emosi nih! Nah, kalau gitu coba deh kita sama-sama pikirkan bagaimana membuat hati bisa sedikit lega atau bahkan melepaskan semua beban itu sama sekali!


Dorothy Thompson, seorang jurnalis Amerika menulis: “Peace is not the absence of conflict but the presence of creative alternatives for responding to conflict — alternatives to passive or aggressive responses, alternatives to violence.”
Let’s see what we got here.

1. Analisa Masalah dan Uraikan dengan Obyektif
Ketika kita mencoba menganalisa suatu masalah secara obyektif, maka kita akan melihat bahwa di satu sisi kita benar, di sisi lain pihak yang bermasalah dengan kita mungkin juga ada benarnya. Meski sama-sama mengandung kebenaran, ada hal-hal yang tidak selalu harus dijabarkan dengan baik dan belum tentu ada momentum yang tepat untuk bisa menyamakan persepsi atau setidaknya butuh waktu yang tidak sebentar dan jika dibandingkan dengan masalahnya, sangat tidak sepadan.
2. Pertimbangkan Untung dan Ruginya
Jika kita mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya menurut kita sangat prinsip, tetapi menurut orang lain tidak, maka kita sama saja bicara dalam deru angin. Tak terdengar. Sia-sia. Saat itulah kita berpikir apakah terus bergaul dengan orang seperti itu lebih banyak mendatangkan keuntungan atau justru merugikan diri sendiri. 
3. Ambil Keputusan
Setelah mencoba menganalisa dan mengurai masalah, lalu menghitung untung dan ruginya,  harus ada keputusan yang diambil. Mencoba memperbaiki hubungan memang harus dilakukan. Tetapi ini harus datang dari dua pihak. Jika keputusan yang diambil adalah meneruskan hubungan, maka segala cara harus diupayakan.  Tetapi jika keputusan yang diambil adalah sebaliknya, maka putuskanlah itu dengan pasti.
4. Berkompromi dengan Hati dan Pikiran
Hati seringkali mudah tergoda oleh bujuk rayu, tetapi otak harus tetap bekerja dengan baik.
Jika keputusannya adalah tetap mencoba menjalin hubungan, maka hati dan pikiran harus berkompromi pada proses yang akan dilalui. Beberapa orang akan punya begitu banyak waktu untuk ‘berperang’ karena tak punya banyak aktifitas, tetapi bagi orang yang kehidupan professional dan sosialnya aktif, berperang untuk hal yang tak sepadan hanyalah buang-buang wakt


Jika sudah pada tahap tak ingin meneruskan hubungan, kompromikan pula itu dengan hati dan pikiran akan selalu menjaga itu. Memutuskan hubungan bukan berarti bermusuhan, seperti juga memaafkan bukan berarti melupakan. Ketika seseorang berkali-kali membuat kecewa, saatnya untuk berpikir memutus semua hubungan dan menganggapnya sama dengan orang-orang lainnya yang tak punya ‘privileged access’ baik dalam pikiran maupun dalam tindakan kita. Putuskan, buang semua pikiran yang mengganggu, dan ‘move on’.
“You can’t shake hands with a clenched fist.” – Indira Gandhi

Sekali lagi, apakah anda percaya takdir? Saya percaya. Takdir mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik untuk menemani saya menjalani hari-hari dalam hidup saya lebih berkualitas. Takdir juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang tidak baik, untuk mengasah mental, kemampuan, dan membawa saya ke arah perbaikan diri.


“Someone who is anybody and who does anything is certainly going to be criticised, vilified and misunderstood. The final proof of greatness lies in being able to endure contumely without resentment.” – Elbert Hubbard
 






Well, I have my way on my own. I chose to remember every good people in my life and throw away some bad people out of it! Cherio!





-Deeshanty-

Sunday, June 9, 2013

You, I, and Them, Who is the really fake?

Ini sebenarnya soal klise. Seseorang bisa dengan mudah mengatakan orang lain ‘fake’ hanya karena orang lain ini selalu memakai ‘make up’ pada wajahnya. Tapi benarkah itu ‘fake’? Kenapa ber-make up dianggap ‘fake’? Kenapa tidak bisa berpikir yang baik-baik saja seperti “mungkin ia memang modis dan senang berdandan” atau “mungkin memang profesinya mengharuskan ia harus selalu memakai ‘make up’ ” atau sama sekali tidak melontarkan TUDUHAN apa pun atas kesukaan seseorang berdandan. Mana yang paling nyaman?





Tuduhan ‘fake’ ini memang seringkali mudah menimbulkan antipati pada orang yang dituduh. Ajakan untuk menyetujui ‘fake’ atau kepalsuan yang ada pada seseorang bisa dihembuskan dengan mudah oleh orang lainnya yang MUNGKIN SAJA dirinya sendiri pun sedang asyik bergelimang dengan kepalsuan. Jika pada saat tak marah pada siapa pun, seseorang senang berkampanye soal ‘fake’, entah kenapa, saya malah melihat orang tersebut justru yang sedang menutupi kekurangan dan rasa iri pada dirinya dengan menuduh orang lain ‘fake’.

Contoh sederhana, ketika ada gossip seorang artis yang selama ini dilihat sexy, hot, dan mengundang mata banyak orang lain untuk melihat, mendapat tuduhan bahwa payudaranya palsu. Apa reaksi kebanyakan orang? Kecewa? Memaki dengan kata kasar? Mengatai artis tersebut telah menipu publik dengan penampilannya? Tersenyum kecut dan tak berkomentar? Atau tertawa dan menganggap orang lain iri?

 

See, this is my point. Semua reaksi dan lontaran pendapat itu adalah buah pikiran yang telah terpatri dan berakar dalam otak kita! Kalau seseorang terbiasa berpikir ‘jorok’ dan ‘buruk’ pada orang lain, reaksi pertama yang muncul akan selalu negatif! Tak mungkin kan air comberan berubah menjadi air zamzam dalam sekejap? Makanya jangan menyimpan air comberan di otak! Kasihan kan otaknya?
Maksud saya begini. ‘fake’ atau kepalsuan yang dilakukan seseorang, tentunya ada batas toleransi. Semua orang bisa ‘fake’ bisa tidak. Tergantung bagaimana caranya memandang setiap masalah. Akan lucu jadinya jika seseorang suka sekali berkampanye ‘anti fake’ dengan cara mendiskreditkan orang lain YANG DIANGGAPNYA ‘fake’.


Lagipula, ‘fake’ atau tidak, jika tak berurusan langsung dan mengganggu kita, apa urusan kita sih?
Menuduh orang lain ‘fake’ tidak serta merta menjadikan diri kita paling ‘real’. Hal yang paling mendasar sebenarnya justru harus ditanyakan pada diri sendiri. “Apa sih yang membuat saya suka mengata-ngatai orang lain ‘fake’? Am I happy with my life?” — Ini penting supaya apa yang kita salurkan melalui ucapan dan statement-statement kita, bisa dipertanggungjawabkan.

Ini contoh sederhana lagi. Ada orang yang merasa dirinya laki-laki, lalu sibuk mengkampanyekan anti ‘fake’ pada perempuan yang gemar berdandan. Well, sebenarnya tak masalah sih selama dia tak berurusan dengan saya. Tetapi yang menggelitik pikiran saya justru begini : laki-laki ini pun dalam kehidupan sehari-hari tak banyak bergaul, senang menyendiri, memakai akun twitter tidak dengan fotonya sendiri, tetapi sangat suka mengatai perempuan berdandan itu ‘fake’! Hellooo??!! Yang sedang anda lakukan sendiri itu apa ya, bung?

Lalu ada lagi contoh sederhana lain. Seseorang dengan bersemangatnya mengatakan, “gue sih paling anti deh sama orang yang suka carmuk!” — Pada kesempatan lain, orang yang katanya ‘anti carmuk’ ini, tiba-tiba terpergok sedang melakukan aksi ‘carmuk’nya yang bahkan lebih parah daripada orang yang suka dituduhnya ‘carmuk’ pada dirinya! Duar! Busted!


No, saya tidak peduli jika anda mengatakan saya sedang ‘fake’ juga di blog saya ini. Pasti anda akan bilang saya sedang ‘fake’ untuk menjadi ‘tidak fake’ dengan menulis tentang ‘fake’ ini. See? Bingung sendiri kan? Haha!
Anyway, again, my point is, kenapa kita tidak biarkan orang lain melakukan apa yang membahagiakan hati mereka. Selama itu tidak ada hubungannya dengan kita, dan sama sekali tidak merugikan kita, tak perlu kan kita mendiskreditkan seseorang dengan tuduhan ‘fake’? Jika seseorang memang ‘fake’, kita juga akan bisa lihat kok, ada siapa saja di sekitarnya, dan siapa teman-temannya.
Many people like to judge others to be fake. Judging others for being ‘fake’ doesn’t make us ‘real’. In my opinion, they have to first look at the mirror, see themselves, ask their hearts: “Am I happy with my life?”




Just my personal thought.